Senin, 15 Juli 2013

Difference

Naskah ini di tulis untuk mengikuti lomba cerpen tingkat... nasional (?) Pengerjaanya terburu-buru jadi seadanya. Alhamdulillah masuk 20 besar dari banyak peserta. Ga dapet apa-apa sih karena ga masuk 3 besar, tapi bangga banget. Lega... Ternyata tulisannya cukup bagus sampai bisa bersaing dengan yang lain ( hihihi ). Daripada naskahnya nganggur dan jadi file bulukan, lebih baik di post kan? Semoga terhibur ya... Jangan lupa di tunggu komentarnya, semoga membantu agar lebih baik lagi. Enjoy =))

DIFFERENCE
Oleh: Karimah Syakirotin
Nobi
Hai, namaku Nobi. Hari Selasa ini umurku akan genap setengah abad. Ya, sekitar 50 tahun. Mendengar jumlah umurku, pasti banyak yang mengira aku ini sudah tua, rengkih dan bungkuk. Itu salah. Secara fisik aku ini berumur 14 tahun. Kulitku putih pucat, tinggiku 140 cm dan potongan rambutku masih cepak -sama seperti dulu. Percaya atau tidak, aku ini tidak bisa disamakan dengan lainnya. Mulai dari umurku, aktifitasku dan semuanya. Tepatnya aku ini bukan manusia, melainkan sosok makhluk yang sebenarnya sudah tidak ada. Manusia-manusia itu menyebutku hantu.
Entahlah, aku tak begitu mengerti dengan manusia-manusia itu. Semasa aku hidup, manusia begitu menghormati arwah manusia yang sudah pergi. Sekarang? Ya tuhan, aku bahkan mendengar pocong dan kuntilanak sudah tidak di takuti. Manusia bahkan tertawa karena film yang diisi dengan karakter sebangsaku. Tapi tenang, aku percaya kalau sebagian manusia masih yakin bahwa makhuk sepertiku tetap ada dan di hormati. Aku juga yakin bahwa hantu sepertiku bisa berteman dengan manusia. Terdengar bodoh, bukan? Tapi aku tak peduli, karena aku sendiri telah membuktikannya ketika umur hantuku 25 tahun.
Dahulu, di rumah besar yang ku tempat ini, tinggal sepasang suami istri yang hidup harmonis. Mereka begitu bahagia ketika setelah 2 tahun pernikahan mereka, terdengar kabar bahwa akan ada anggota keluarga baru. Itulah Dany, bayi mungil itu. Satu hal yang harus diingat. Sebagai hantu, aku pun memiliki hasrat untuk menakuti manusia. Namun sayangnya, aku tak pernah berani melakukan itu. Aku tak sama seperti tante kuntilanak yang senang menakuti penjaga kompleks. Aku juga tak seperti kak pocong yang begitu terkenal dengan matanya yang di kelilingi warna hitam. Aku hanya tak ingin mengganggu kebahagiaan hidup manusia dan aku ingin bisa berteman dengan bangsa manusia. Aku begitu kaget ketika tahu bahwa kenyataannya Dany kecil dapat melihatku dan ia mengajakku berteman.
Aku dengar, ketika bayi, manusia dapat melihat sesuatu yang tak seharusnya bisa manusia lihat.
Mungkin, itu yang terjadi pada Dany kecil. Ia menganggapku sebagai teman bermainnya. Dia lucu dan menggemaskan. Aku tak pernah merasa kesepian jika bermain dengan Dany. Aku senang.
Namun sepertinya, memang aku dengan manusia tak lagi sama. Hari ke hari, Dany kecil semakin beranjak dewasa. Aku pun tak tahu kapan persisnya, ia tak lagi dapat melihatku. Sungguh, aku merasa sepi. Aku hanya bisa melihat keluarga itu beraktifitas di dalam rumah. Aku saat itu, hanya bisa melihat Dany tumbuh besar. Mengucapkan salam ketika ia pergi ke sekolah dengan ransel di punggungnya. Melihat Dany mengajak teman-temannya menginap di rumah besar itu. Percayalah, aku begitu merindukan saat-saat Dany masih menangis ketika aku tak memberikan mainan yang ia suka. Aku selalu merindukan masa ketika Dany masih  melihatku. Aku kesepian.
Bangunan rumah ini sebenarnya masih kuat dan kokoh. Sayangnya, bangunan ini terlalu tua dan mengenaskan sepeninggalan keluarga Dany yang pindah ke luar negeri. Rumah tua ini tak terurus. Cat dindingnya mengelupas disana-sini dan debu menempel dimana-mana. Di umur hantuku yang genap 50 tahun ini, aku merasakan rasa sedih yang teramat. Ya, rasa sedih yang melebihi rasa sedihku ketika Dany tak lagi berteman denganku. Hal itu karena Selasa ini, rumah tua ini akan di hancurkan. Aku benar-benar sedih melihat pria gendut itu berbicara di ruang tamu,
“Aku suka dengan rumah ini, tapi tetap saja rumah ini tak pernah laku terjual.”
“Ya pak, sepertinya kita harus merenovasi total. Hancurkan dan bangun lagi dengan rumah baru yang modern. Saya dengar, akhir-akhir ini pasar sedang menyukai model rumah minimalis yang luas. Lahan ini sepertinya cocok, pak.” Ucap pegawai muda berkacamata itu kepada bosnya yang berbadan tambun. Ia kini tersenyum, membuat kumis lebatnya terangkat.
“Kita hancurkan Selasa depan. Aku akan menyewa alat-alat beratnya dan kemungkinan kita mendapat diskon dari pusat penyewaannya. Aku mencium aroma keuntungan yang besar, nak.”
Sedih. Bayangkan rasanya, apa yang sudah kau anggap milikmu akan di hancurkan dan di rebut darimu. Aku kini merasakannya. Sudah cukuplah aku hidup kesepian selama setengah abad ini. Tak ingin rasanya rumah yang ketika aku hidup pun ku tinggali akan di hancurkan. Meskipun terlalu banyak kenangan pahit, aku ingin rumah ini menyisakan kenangan indah untukku.
 Pagi ini aku lihat pagar berkarat itu sudah terbuka. Aku penasaran, biasanya pria gendut itu datang satu bulan sekali untuk melihat kondisi rumah ini. Lalu hari ini buat apa lagi ia datang kemari?
“Apa? Aku pikir harganya akan sama dengan di pelelangan.” Ucap wanita paruh baya yang baru saja membuka pintu.
“Itu tidak termasuk komisi untuk renovasi kecil. Apalagi kau sendiri bisa lihat, arsitektur rumah ini begitu berkesan.” Pria gendut itu bersikeras menawarkan. “Kalau pun tidak jadi, tak masalah untukku. Toh, rumah ini akan di hancurkan hari Selasa.”
“Rumah ini punya aksen-aksen yang unik sih. Sayangnya, banyak yang perlu di renovasi.” Lelaki di sebelah wanita itu pun menimpali.
“Baiklah, aku turunkan 10%. Take it or leave it?” Pria gendut itu mengangkat sebelah tangannya dan tak lama disambut tangan lelaki dihadapannya.
“Oke. Kami beli rumah ini.”
Ingin tahu perasaanku? Tentu saja aku senang. Apalagi ketika rumah ini di bersihkan dan keluarga itu mulai memindahkan barang-barang ke dalam rumah. Aku pikir ini seperti menghidupkan kembali rumah ini. Rumah yang punya banyak sejarah untukku. Hal yang membuatku bahagia adalah… mereka mempunyai seorang anak! Namanya Gea. Umurnya 15 dan tubuhnya tinggi. Ia manja, rambutnya di cat coklat dan berjerawat -tapi aku tak peduli. Gea senang bermain video game dan bermain dengan gitar listriknya semalaman. Ia tidak seperti Dany yang rajin belajar. Gea tipikal gadis nakal yang senang membolos dan membohongi kedua orang tuanya.
Hari ini aku lihat Gea marah-marah. Ia membanting sendok ketika makan malam.
“Kita bukan liburan, Gea. Mama dan Papa ada pekerjaan di Singapura.” Ucap Mama Gea dengan tenang. Ia ingin menjelaskan dan menenangkan amarah anak semata wayangnya.
“Terus Gea di tinggal sendiri? Di rumah jelek dan jadul ini? Please deh, Ma. You are kidding me?” Seru Gea dengan suara keras.
“Kamu kan bisa ajak teman-teman kamu kemari, bukannya kamu mau latihan band untuk pensi sekolah kamu itu?” Tanya Papanya sambil terus memandang koran paginya yang tak sempat di baca tadi pagi.
“Serius, Pa? Boleh ajak Aster, Roy sama Kevin? Asyik!”
Aku lihat Gea langsung mengambil gadget di kamarnya. Menyentuh layarnya menggunakan ibu jari dengan cepat. Bip-bip-bip, begitu bunyi yang ku dengar semalam suntuk. Boleh jadi malam itu Gea sangat senang dan itupun membuatku senang.
Seperti yang di rencanakan Gea, esok malamnya ketiga temannya datang. Gadis berambut hitam dengan aksen ungu, laki-laki dengan gitar dan laki-laki berpipi tembam itu datang. Mereka menghancurkan seisi rumah. Makanan berceceran dimana-mana dan yang terpenting mereka membuat bising rumah ini.
“Ge, kok aku merinding disko gini ya? Rumah kamu mistis banget kesannya.” Ucap Roy, lelaki berpipi tembam. Aku berniat sedikit mengganggunya dengan bernapas di dekat lehernya. Setidaknya aku terhibur melihat si gembul itu ketakutan dan berwajah pias.
“Katanya rumah ini umurnya udah lama banget dan dulu pemilik pertamanya orang Jepang. Semacem penjajah yang ikut tinggal di Indonesia gitu deh.” Jelas Gea dan membuatku mempertajam pendengaran. Apa tadi ia bilang? Penjajah? Aku bukan penjajah! Dia yang menjajah rumahku hingga berantakan seperti ini.
“Oh, pantes tadi di atas aku liat tulisan Jepang gitu deket loteng.” Kata Aster menimpali.
Aku tahu tulisan yang di maksud gadis berambut ungu itu. Disana tertulis shin-shi-tsu, kamar tidur. Ya, kamar tidurku 50 tahun lalu ada disana. Aku menguncinya sebelum aku akhirnya meninggal dan mati muda. Ah… sudahlah aku tak ingin mengingatnya.
“Ge, aku haus nih.Minta air dong.” Roy mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Aku lihat tadi ia sempat tersedak ketika menonton film.
“Udah numpang, pake nyuruh lagi. Hu…” Seru Gea lantas mengambil gelas itu. Aku pun tanpa sadar mengikuti langkah gadis itu. Aku tak tahu alasanku mengikutinya, aku hanya berkeinginan mengikutinya. Aku mendapat firasat buruk.
Aku lihat gadis itu membuka kulkas lantas menuangkan air. Mungkin ia tidak melihat genangan air di dekatnya berdiri, ia berjalan mundur dan terpeleset. Ia menjatuhkan gelas dan aku lihat tubuhnya limbung ke belakang. Ia akan terjatuh dan mengenai pecahan gelas jika saja aku tak menahan tubuhnya. Ya, aku tak tahu alasannya, tapi aku bisa menangkap tubuh mungil Gea.
Gea
Aku tidak yakin dengan yang aku lihat saat ini. Ketika akan terjatuh aku sudah berpikir akan ada hal buruk yang terjadi. Namun nyatanya tidak, sosok putih itu meraihku dengan cepat. Cepat sekali hingga aku tak bisa melihatnya bergerak. Ia bermata sipit dan bibirnya pucat seperti orang sakit.
“Ka-kamu siapa?” Suara serakku keluar begitu saja. Aku mulai menyadari kalau sosok itu terlalu pucat untuk kulit manusia.
“Kamu bisa melihatku? Sungguh?” Ia terlihat gugup sekaligus kaget. Sosok itu pun menyentuh pipiku dan anehnya aku tak merasakan apapun. Jarinya menembus kulitku. Oleh: Karimah Syakirotin
            “ Kamu hantu? Kyaaa….” Aku berteriak sekencang-kencangnya hingga ketiga sahabatku datang dengan wajah panik. Mereka lantas bertanya banyak hal. Aku taki ingat banyak hal. Yang aku ingat saat itu, aku terjatuh dan tak sadarkan diri.
           
            Ketika aku bangun yang aku lihat hanyalah sosok itu. Dia terlihat lebih ramah dengan senyumnya dan mata yang semakin sipit.
            “Bisakah kau tidak berteriak? Baiklah. Aku Nobi, kalian menyebutku hantu. Tapi… kau tidak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku janji.” Ucapnya dengan logat yang aneh.
            “Kamu hantu Jepang? Nobi? Nobita yang di Doraemon itu? Kenapa aku bisa liat kamu? Ya Tuhan apa aku mulai gila? Aku bicara dengan hantu.” Sempurna aku membekap mulutku sendiri. Aku takut dan tubuhku mulai menggigil. Aku rasa ini gejala kegilaan, atau ini hukuman karena aku sering membolos sekolah?
Tiba-tiba pintu di buka. Aster datang membawa segelas air. Saat itu aku sudah tak melihat sosok hantu bernama Nobi itu. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang aku tahu Aster langsung menghambur ke arahku.
“Ge, akhirnya kamu sadar juga. Kita tadi panik banget.” Aster memegangi tanganku kemudian. “Ya ampun kamu menggigil. Sebentar aku cari selimut dulu.” Aster hendak keluar kamar namun aku segera menarik lengannya.
“Jangan keluar. Aku ga kedinginan. Kamu disini aja.” Ucapku. Sejujurnya aku tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, aku hanya ingin Aster menemaniku. Jika aku menceritakannya, mereka pasti tak akan percaya dan menganggapku aneh.
“Ya udah. Aku temenin kamu kok. Sekarang kamu minum dulu aja. Nih.” Aster memberiku gelas itu. Aku tidak haus namun aku meminumnya dengan tidak sabar. Aku tak menginginkan apapun. Satu hal yang aku inginkan saat ini hanyalah terbangun dari mimpi buruk ini.
Pagi ini Aster, Roy dan Kevin pamit dan pulang. Aku sudah meminta Aster untuk tetap tinggal tapi ia tak bisa. Roy dan Kevin pun sudah ada janji bermain futsal bersama. Aku sendiri ingin saja ikut bersama salah satu dari mereka, tapi badanku sendiri tidak mendukung. Badanku terasa lemas dan tidak memiliki kekuatan apapun untuk keluar rumah.
“Kamu tidak perlu takut.” Sosok itu sudah berada di sampingku. Kaget, aku benar-benar terkejut.
 “PERGI! AKU TIDAK GILA, HANTU ITU TIDAK ADA!?” Aku berteriak lalu berlari ke kamarku. Aku menguncinya rapat dan segera meringkuk di tempat tidurku.
“Kalau aku benar-benar ada, apa yang bisa kau lakukan? Aku memang ada. Aku nyata. Apa beratnya mempercayai sesuatu di luar akal manusia? Apa sesuatu yang tidak dapat kamu lihat itu selalu tak nyata? Gea, aku ini nyata!” Aku dengar suara Nobi berteriak dibalik selimut yang membungkus tubuhku. Aku ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini. Aku hanya ingin terbangun dan berbuat baik. Aku tidak ingin lagi membolos, berbohong dan semua hal buruk akan ku hilangkan. Aku berjanji.
“Aku merasakan kesepian. Aku ingin berteman. Apa itu salah?” Nobi berbicara lagi, suaranya bergetar kali ini. “Baiklah. Memang aku dan manusia tak lagi sama. Aku dan kamu berbeda. Aku akan menerima itu mulai sekarang. Jangan takut kalau aku akan menghantui mu, Gea. Tidak semua makhluk sepertiku berbuat jahat.”
Suara itu hilang. Kini aku tak mendengar apapun terkecuali isakanku. Aku yakin Nobi sudah pergi.  Aku sudah menyakitinya. Nobi pasti hantu yang baik. Ia menolongku tadi malam. Jika saja ia tak menahan tubuhku yang terjatuh, pecahan gelas itu pastilah sudah melukaiku. Ia hanya ingin berteman, hanya itu. Kenapa terlalu sulit untuk mempercayai itu? Ayolah, Gea. Aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya sendiri, sahabat-sahabatku selalu ada bersamaku. Nobi itu pasti menderita dengan kesepian itu.
“Gea, kamu jahat sekali.” Gumamku lirih. Selimutku sempurna terjatuh di lantai. Aku tak peduli. Aku hanya berteriak, memanggil nama itu. Mengucapkan beribu kata maaf. Aku begitu jahatnya melukainya.
“Bantu aku, sekali ini saja. Tolong buka lemari di kamarku.” Suara itu datang tiba-tiba. Membuatku berhenti menangis dan mulai mendengarkan.Oleh: Karimah Syakirotin
“Ayahku seorang Jepang. Ia menikah dengan ibuku yang asli penduduk Indonesia. Selama mereka hidup bersama, mereka begitu harmonis. Ayahku menerima seluruh perbedaan yang dimilikinya dengan ibuku. Namun ketika aku hadir, mereka tak lagi seperti dulu.”
Aku sulit bernapas. Dadaku terasa sesak mendengar suara lirih itu. Ya Tuhan, ia memiliki cerita yang bahkan tak ada seorang pun yang tahu sebelumnya. Ia menceritakannya padaku. Aku yang bahkan sudah meneriakinya, memarahinya tanpa sebab, dan aku pun yang sudah melukai perasaannya. Ia menceritakan kisahnya padaku. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
“Mereka tak lagi memiliki pemikiran yang sama dan yang membuatku semakin sedih…  itu semua karenaku. Mereka mulai meributkan hal kecil. Lalu mulai saling berteriak dan membentak. Ayahku mulai membawa-bawa negaranya. Ia percaya orang Indonesia terlalu bodoh hingga dapat dengan mudah di rebut Jepang. Ia pun mulai merendahkan tanah kelahiran ibuku.”
Pipiku basah dan mataku terasa panas. Air mataku mengalir di pipi dan terjatuh di daguku. Apa yang harus aku lakukan? Beri tahu aku, Nobi. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku sejak tadi.
“Hidupku tak sesempurna kehidupanmu, Gea. Kita berbeda. Aku tak bisa membaca ketika teman-teman seusiaku dulu dapat membaca dongeng kesukaan mereka. Aku tak bisa mengeja dengan benar. Aku bodoh. Aku tak memiliki otak sepintar teman-temanku.” Suara itu semakin bergetar. Aku tak kuat untuk menahan tubuhku dan aku pun terjatuh.
“Itu yang membuat aku kesepian dan hal itu pula yang membuat ayahku menuduh ibuku sebagai penyebab dari kekuranganku. Ayahku menampar ibuku. Aku berlari kekamarku, menguncinya dan menangis. Aku berharap, jika aku pergi ayahku tak lagi menyalahkan ibu. Aku memasuki lemari pakaianku, menutupnya dan mencoba untuk tertidur secepat mungkin. Jadi, tolong aku kali ini saja. Buat aku pegi dengan tenang, Gea.”
Aku menangis dan tak sanggup melakukan apapun kecuali menangisi penderitaan Nobi. Ia memberitahuku apa yang harus ku lakukan. Lalu apa yang membuatmu menunggu untuk membantunya?
Aku melangkah menaiki tangga, mendekati pintu bertuliskan shin-shi-tsu dan mencoba membukanya. Seperti yang dikatakan Nobi, pintu itu terkunci. Aku dapat merasakan air mataku yang terjatuh ke lenganku. Sungguh aku tak dapat menghentikan tangisanku ini. Rasanya perih sekali ketika mengetahui kenyatahan pahit itu.
Aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk mendobrak pintu itu. Sekali. Duakali. Semuanya sia-sia, pintu itu tak bergeming. Pintu itu terkunci rapat, sama seperti kisah Nobi yang di tutupnya rapat-rapat. Aku akan mencoba dan tak akan menyerah.
BRAK.
Pintu itu terbuka lebar. Kamar itu tidak besar, juga tidak kecil. Sebagian dindingnya terpajang poster tentang cara mengeja juga banyak catatan matematika. Sungguh, suasana kamar itu begitu membuat hatiku tercabik. Di tempat inilah Nobi menangis sepanjang waktu. Nobi yang kesepian, tidak ada yang lain. Tanpa berpikir panjang,aku langsung membuka lemari disana. Kayunya mulai rapuh hingga tak sulit untuk merusak engsel pintunya. Aku terkejut ketika lemari itu terbuka. Aku menemukan kerangka itu. Kerangka Nobi. 
“Terimakasih, Gea. Aku sekarang bisa pergi dengan tenang. Selamat tinggal.”
Suara itu hilang. Nobi sudah pergi. Ia akan tenang sekarang. Nobi tak lagi kesepian. Disana ia akan bertemu orangtuanya. Hidup abadi dengan kebahagiaan. Terimakasih, karenamu aku akan mengubah hidupku menjadi jauh lebih baik. Aku berjanji akan menghargai setiap perbedaan. Itu hal yang kau ajarkan padaku. Selamat jalan, teman. Berbahagialah. Oleh: Karimah Syakirotin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar