Naskah
ini di tulis untuk mengikuti lomba cerpen tingkat... nasional (?)
Pengerjaanya terburu-buru jadi seadanya. Alhamdulillah masuk 20 besar
dari banyak peserta. Ga dapet apa-apa sih karena ga masuk 3 besar, tapi
bangga banget. Lega... Ternyata tulisannya cukup bagus sampai bisa
bersaing dengan yang lain ( hihihi ). Daripada naskahnya nganggur dan
jadi file bulukan, lebih baik di post kan? Semoga terhibur ya... Jangan
lupa di tunggu komentarnya, semoga membantu agar lebih baik lagi. Enjoy
=))
DIFFERENCE
Oleh:
Karimah Syakirotin
Nobi
Hai,
namaku Nobi. Hari Selasa ini umurku akan genap setengah abad. Ya, sekitar 50
tahun. Mendengar jumlah umurku, pasti banyak yang mengira aku ini sudah tua,
rengkih dan bungkuk. Itu salah. Secara fisik aku ini berumur 14 tahun. Kulitku
putih pucat, tinggiku 140 cm dan potongan rambutku masih cepak -sama seperti
dulu. Percaya atau tidak, aku ini tidak bisa disamakan dengan lainnya. Mulai
dari umurku, aktifitasku dan semuanya. Tepatnya aku ini bukan manusia, melainkan
sosok makhluk yang sebenarnya sudah tidak ada. Manusia-manusia itu menyebutku
hantu.
Entahlah, aku tak begitu mengerti dengan
manusia-manusia itu. Semasa aku hidup, manusia begitu menghormati arwah manusia
yang sudah pergi. Sekarang? Ya tuhan, aku bahkan mendengar pocong dan
kuntilanak sudah tidak di takuti. Manusia bahkan tertawa karena film yang diisi
dengan karakter sebangsaku. Tapi tenang, aku percaya kalau sebagian manusia
masih yakin bahwa makhuk sepertiku tetap ada dan di hormati. Aku juga yakin
bahwa hantu sepertiku bisa berteman dengan manusia. Terdengar bodoh, bukan?
Tapi aku tak peduli, karena aku sendiri telah membuktikannya ketika umur hantuku
25 tahun.
Dahulu, di rumah besar yang ku tempat
ini, tinggal sepasang suami istri yang hidup harmonis. Mereka begitu bahagia
ketika setelah 2 tahun pernikahan mereka, terdengar kabar bahwa akan ada
anggota keluarga baru. Itulah Dany, bayi mungil itu. Satu hal yang harus
diingat. Sebagai hantu, aku pun memiliki hasrat untuk menakuti manusia. Namun
sayangnya, aku tak pernah berani melakukan itu. Aku tak sama seperti tante
kuntilanak yang senang menakuti penjaga kompleks. Aku juga tak seperti kak pocong
yang begitu terkenal dengan matanya yang di kelilingi warna hitam. Aku hanya
tak ingin mengganggu kebahagiaan hidup manusia dan aku ingin bisa berteman
dengan bangsa manusia. Aku begitu kaget ketika tahu bahwa kenyataannya Dany
kecil dapat melihatku dan ia mengajakku berteman.
Aku dengar, ketika bayi, manusia dapat
melihat sesuatu yang tak seharusnya bisa manusia lihat.
Mungkin, itu yang
terjadi pada Dany kecil. Ia menganggapku sebagai teman bermainnya. Dia lucu dan
menggemaskan. Aku tak pernah merasa kesepian jika bermain dengan Dany. Aku
senang.
Namun sepertinya, memang aku dengan
manusia tak lagi sama. Hari ke hari, Dany kecil semakin beranjak dewasa. Aku
pun tak tahu kapan persisnya, ia tak lagi dapat melihatku. Sungguh, aku merasa
sepi. Aku hanya bisa melihat keluarga itu beraktifitas di dalam rumah. Aku saat
itu, hanya bisa melihat Dany tumbuh besar. Mengucapkan salam ketika ia pergi ke
sekolah dengan ransel di punggungnya. Melihat Dany mengajak teman-temannya
menginap di rumah besar itu. Percayalah, aku begitu merindukan saat-saat Dany
masih menangis ketika aku tak memberikan mainan yang ia suka. Aku selalu
merindukan masa ketika Dany masih
melihatku. Aku kesepian.
…
Bangunan rumah ini sebenarnya masih kuat
dan kokoh. Sayangnya, bangunan ini terlalu tua dan mengenaskan sepeninggalan
keluarga Dany yang pindah ke luar negeri. Rumah tua ini tak terurus. Cat
dindingnya mengelupas disana-sini dan debu menempel dimana-mana. Di umur hantuku
yang genap 50 tahun ini, aku merasakan rasa sedih yang teramat. Ya, rasa sedih
yang melebihi rasa sedihku ketika Dany tak lagi berteman denganku. Hal itu
karena Selasa ini, rumah tua ini akan di hancurkan. Aku benar-benar sedih
melihat pria gendut itu berbicara di ruang tamu,
“Aku suka dengan rumah ini, tapi tetap
saja rumah ini tak pernah laku terjual.”
“Ya pak, sepertinya kita harus
merenovasi total. Hancurkan dan bangun lagi dengan rumah baru yang modern. Saya
dengar, akhir-akhir ini pasar sedang menyukai model rumah minimalis yang luas.
Lahan ini sepertinya cocok, pak.” Ucap pegawai muda berkacamata itu kepada
bosnya yang berbadan tambun. Ia kini tersenyum, membuat kumis lebatnya
terangkat.
“Kita hancurkan Selasa depan. Aku akan
menyewa alat-alat beratnya dan kemungkinan kita mendapat diskon dari pusat
penyewaannya. Aku mencium aroma keuntungan yang besar, nak.”
Sedih. Bayangkan rasanya, apa yang sudah
kau anggap milikmu akan di hancurkan dan di rebut darimu. Aku kini
merasakannya. Sudah cukuplah aku hidup kesepian selama setengah abad ini. Tak
ingin rasanya rumah yang ketika aku hidup pun ku tinggali akan di hancurkan.
Meskipun terlalu banyak kenangan pahit, aku ingin rumah ini menyisakan kenangan
indah untukku.
…
Pagi
ini aku lihat pagar berkarat itu sudah terbuka. Aku penasaran, biasanya pria
gendut itu datang satu bulan sekali untuk melihat kondisi rumah ini. Lalu hari
ini buat apa lagi ia datang kemari?
“Apa? Aku pikir harganya akan sama
dengan di pelelangan.” Ucap wanita paruh baya yang baru saja membuka pintu.
“Itu tidak termasuk komisi untuk
renovasi kecil. Apalagi kau sendiri bisa lihat, arsitektur rumah ini begitu
berkesan.” Pria gendut itu bersikeras menawarkan. “Kalau pun tidak jadi, tak
masalah untukku. Toh, rumah ini akan di hancurkan hari Selasa.”
“Rumah ini punya aksen-aksen yang unik
sih. Sayangnya, banyak yang perlu di renovasi.” Lelaki di sebelah wanita itu
pun menimpali.
“Baiklah, aku turunkan 10%. Take it or leave it?” Pria gendut itu
mengangkat sebelah tangannya dan tak lama disambut tangan lelaki dihadapannya.
“Oke. Kami beli rumah ini.”
Ingin tahu perasaanku? Tentu saja aku
senang. Apalagi ketika rumah ini di bersihkan dan keluarga itu mulai memindahkan
barang-barang ke dalam rumah. Aku pikir ini seperti menghidupkan kembali rumah
ini. Rumah yang punya banyak sejarah untukku. Hal yang membuatku bahagia
adalah… mereka mempunyai seorang anak! Namanya Gea. Umurnya 15 dan tubuhnya
tinggi. Ia manja, rambutnya di cat coklat dan berjerawat -tapi aku tak peduli. Gea
senang bermain video game dan bermain dengan gitar listriknya semalaman. Ia
tidak seperti Dany yang rajin belajar. Gea tipikal gadis nakal yang senang
membolos dan membohongi kedua orang tuanya.
Hari ini aku lihat Gea marah-marah. Ia
membanting sendok ketika makan malam.
“Kita bukan liburan, Gea. Mama dan Papa
ada pekerjaan di Singapura.” Ucap Mama Gea dengan tenang. Ia ingin menjelaskan
dan menenangkan amarah anak semata wayangnya.
“Terus Gea di tinggal sendiri? Di rumah
jelek dan jadul ini? Please deh, Ma. You
are kidding me?” Seru Gea dengan suara keras.
“Kamu kan bisa ajak teman-teman kamu
kemari, bukannya kamu mau latihan band untuk pensi sekolah kamu itu?” Tanya
Papanya sambil terus memandang koran paginya yang tak sempat di baca tadi pagi.
“Serius, Pa? Boleh ajak Aster, Roy sama
Kevin? Asyik!”
Aku lihat Gea langsung mengambil gadget di kamarnya. Menyentuh layarnya
menggunakan ibu jari dengan cepat. Bip-bip-bip, begitu bunyi yang ku dengar
semalam suntuk. Boleh jadi malam itu Gea sangat senang dan itupun membuatku
senang.
…
Seperti yang di rencanakan Gea, esok
malamnya ketiga temannya datang. Gadis berambut hitam dengan aksen ungu,
laki-laki dengan gitar dan laki-laki berpipi tembam itu datang. Mereka
menghancurkan seisi rumah. Makanan berceceran dimana-mana dan yang terpenting
mereka membuat bising rumah ini.
“Ge, kok aku merinding disko gini ya?
Rumah kamu mistis banget kesannya.” Ucap Roy, lelaki berpipi tembam. Aku
berniat sedikit mengganggunya dengan bernapas di dekat lehernya. Setidaknya aku
terhibur melihat si gembul itu ketakutan dan berwajah pias.
“Katanya rumah ini umurnya udah lama
banget dan dulu pemilik pertamanya orang Jepang. Semacem penjajah yang ikut
tinggal di Indonesia gitu deh.” Jelas Gea dan membuatku mempertajam
pendengaran. Apa tadi ia bilang? Penjajah? Aku bukan penjajah! Dia yang
menjajah rumahku hingga berantakan seperti ini.
“Oh, pantes tadi di atas aku liat
tulisan Jepang gitu deket loteng.” Kata Aster menimpali.
Aku tahu tulisan yang di maksud gadis
berambut ungu itu. Disana tertulis shin-shi-tsu,
kamar tidur. Ya, kamar tidurku 50 tahun lalu ada disana. Aku menguncinya
sebelum aku akhirnya meninggal dan mati muda. Ah… sudahlah aku tak ingin
mengingatnya.
“Ge, aku haus nih.Minta air dong.” Roy
mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. Aku lihat tadi ia sempat tersedak ketika
menonton film.
“Udah numpang, pake nyuruh lagi. Hu…”
Seru Gea lantas mengambil gelas itu. Aku pun tanpa sadar mengikuti langkah
gadis itu. Aku tak tahu alasanku mengikutinya, aku hanya berkeinginan
mengikutinya. Aku mendapat firasat buruk.
Aku lihat gadis itu membuka kulkas
lantas menuangkan air. Mungkin ia tidak melihat genangan air di dekatnya
berdiri, ia berjalan mundur dan terpeleset. Ia menjatuhkan gelas dan aku lihat
tubuhnya limbung ke belakang. Ia akan terjatuh dan mengenai pecahan gelas jika
saja aku tak menahan tubuhnya. Ya, aku tak tahu alasannya, tapi aku bisa menangkap
tubuh mungil Gea.
…
Gea
Aku
tidak yakin dengan yang aku lihat saat ini. Ketika akan terjatuh aku sudah
berpikir akan ada hal buruk yang terjadi. Namun nyatanya tidak, sosok putih itu
meraihku dengan cepat. Cepat sekali hingga aku tak bisa melihatnya bergerak. Ia
bermata sipit dan bibirnya pucat seperti orang sakit.
“Ka-kamu siapa?” Suara serakku keluar
begitu saja. Aku mulai menyadari kalau sosok itu terlalu pucat untuk kulit
manusia.
“Kamu bisa melihatku? Sungguh?” Ia
terlihat gugup sekaligus kaget. Sosok itu pun menyentuh pipiku dan anehnya aku
tak merasakan apapun. Jarinya menembus kulitku. Oleh:
Karimah Syakirotin
“ Kamu hantu? Kyaaa….” Aku berteriak
sekencang-kencangnya hingga ketiga sahabatku datang dengan wajah panik. Mereka
lantas bertanya banyak hal. Aku taki ingat banyak hal. Yang aku ingat saat itu,
aku terjatuh dan tak sadarkan diri.
…
Ketika aku bangun yang aku lihat
hanyalah sosok itu. Dia terlihat lebih ramah dengan senyumnya dan mata yang
semakin sipit.
“Bisakah kau tidak berteriak?
Baiklah. Aku Nobi, kalian menyebutku hantu. Tapi… kau tidak perlu takut. Aku
tidak akan menyakitimu. Aku janji.” Ucapnya dengan logat yang aneh.
“Kamu hantu Jepang? Nobi? Nobita
yang di Doraemon itu? Kenapa aku bisa liat kamu? Ya Tuhan apa aku mulai gila?
Aku bicara dengan hantu.” Sempurna aku membekap mulutku sendiri. Aku takut dan
tubuhku mulai menggigil. Aku rasa ini gejala kegilaan, atau ini hukuman karena
aku sering membolos sekolah?
Tiba-tiba pintu di buka. Aster datang
membawa segelas air. Saat itu aku sudah tak melihat sosok hantu bernama Nobi
itu. Aku tak mengerti dengan apa yang terjadi. Yang aku tahu Aster langsung
menghambur ke arahku.
“Ge, akhirnya kamu sadar juga. Kita tadi
panik banget.” Aster memegangi tanganku kemudian. “Ya ampun kamu menggigil.
Sebentar aku cari selimut dulu.” Aster hendak keluar kamar namun aku segera menarik
lengannya.
“Jangan keluar. Aku ga kedinginan. Kamu
disini aja.” Ucapku. Sejujurnya aku tak ingin menceritakan hal yang sebenarnya
terjadi, aku hanya ingin Aster menemaniku. Jika aku menceritakannya, mereka
pasti tak akan percaya dan menganggapku aneh.
“Ya udah. Aku temenin kamu kok. Sekarang
kamu minum dulu aja. Nih.” Aster memberiku gelas itu. Aku tidak haus namun aku
meminumnya dengan tidak sabar. Aku tak menginginkan apapun. Satu hal yang aku
inginkan saat ini hanyalah terbangun dari mimpi buruk ini.
…
Pagi ini Aster, Roy dan Kevin pamit dan
pulang. Aku sudah meminta Aster untuk tetap tinggal tapi ia tak bisa. Roy dan
Kevin pun sudah ada janji bermain futsal bersama. Aku sendiri ingin saja ikut
bersama salah satu dari mereka, tapi badanku sendiri tidak mendukung. Badanku
terasa lemas dan tidak memiliki kekuatan apapun untuk keluar rumah.
“Kamu tidak perlu takut.” Sosok itu
sudah berada di sampingku. Kaget, aku benar-benar terkejut.
“PERGI!
AKU TIDAK GILA, HANTU ITU TIDAK ADA!?” Aku berteriak lalu berlari ke kamarku.
Aku menguncinya rapat dan segera meringkuk di tempat tidurku.
“Kalau aku benar-benar ada, apa yang
bisa kau lakukan? Aku memang ada. Aku nyata. Apa beratnya mempercayai sesuatu
di luar akal manusia? Apa sesuatu yang tidak dapat kamu lihat itu selalu tak
nyata? Gea, aku ini nyata!” Aku dengar suara Nobi berteriak dibalik selimut
yang membungkus tubuhku. Aku ingin segera terbangun dari mimpi buruk ini. Aku
hanya ingin terbangun dan berbuat baik. Aku tidak ingin lagi membolos,
berbohong dan semua hal buruk akan ku hilangkan. Aku berjanji.
“Aku merasakan kesepian. Aku ingin
berteman. Apa itu salah?” Nobi berbicara lagi, suaranya bergetar kali ini.
“Baiklah. Memang aku dan manusia tak lagi sama. Aku dan kamu berbeda. Aku akan
menerima itu mulai sekarang. Jangan takut kalau aku akan menghantui mu, Gea.
Tidak semua makhluk sepertiku berbuat jahat.”
Suara itu hilang. Kini aku tak mendengar
apapun terkecuali isakanku. Aku yakin Nobi sudah pergi. Aku sudah menyakitinya. Nobi pasti hantu yang
baik. Ia menolongku tadi malam. Jika saja ia tak menahan tubuhku yang terjatuh,
pecahan gelas itu pastilah sudah melukaiku. Ia hanya ingin berteman, hanya itu.
Kenapa terlalu sulit untuk mempercayai itu? Ayolah, Gea. Aku bahkan tidak tahu
bagaimana rasanya sendiri, sahabat-sahabatku selalu ada bersamaku. Nobi itu
pasti menderita dengan kesepian itu.
“Gea, kamu jahat sekali.” Gumamku lirih.
Selimutku sempurna terjatuh di lantai. Aku tak peduli. Aku hanya berteriak,
memanggil nama itu. Mengucapkan beribu kata maaf. Aku begitu jahatnya
melukainya.
“Bantu aku, sekali ini saja. Tolong buka
lemari di kamarku.” Suara itu datang tiba-tiba. Membuatku berhenti menangis dan
mulai mendengarkan.Oleh:
Karimah Syakirotin
“Ayahku seorang Jepang. Ia menikah
dengan ibuku yang asli penduduk Indonesia. Selama mereka hidup bersama, mereka
begitu harmonis. Ayahku menerima seluruh perbedaan yang dimilikinya dengan
ibuku. Namun ketika aku hadir, mereka tak lagi seperti dulu.”
Aku sulit bernapas. Dadaku terasa sesak
mendengar suara lirih itu. Ya Tuhan, ia memiliki cerita yang bahkan tak ada
seorang pun yang tahu sebelumnya. Ia menceritakannya padaku. Aku yang bahkan
sudah meneriakinya, memarahinya tanpa sebab, dan aku pun yang sudah melukai
perasaannya. Ia menceritakan kisahnya padaku. Sekarang apa yang harus aku
lakukan?
“Mereka tak lagi memiliki pemikiran yang
sama dan yang membuatku semakin sedih… itu semua karenaku. Mereka mulai meributkan
hal kecil. Lalu mulai saling berteriak dan membentak. Ayahku mulai membawa-bawa
negaranya. Ia percaya orang Indonesia terlalu bodoh hingga dapat dengan mudah di
rebut Jepang. Ia pun mulai merendahkan tanah kelahiran ibuku.”
Pipiku basah dan mataku terasa panas.
Air mataku mengalir di pipi dan terjatuh di daguku. Apa yang harus aku lakukan?
Beri tahu aku, Nobi. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku sejak tadi.
“Hidupku tak sesempurna kehidupanmu,
Gea. Kita berbeda. Aku tak bisa membaca ketika teman-teman seusiaku dulu dapat
membaca dongeng kesukaan mereka. Aku tak bisa mengeja dengan benar. Aku bodoh.
Aku tak memiliki otak sepintar teman-temanku.” Suara itu semakin bergetar. Aku
tak kuat untuk menahan tubuhku dan aku pun terjatuh.
“Itu yang membuat aku kesepian dan hal
itu pula yang membuat ayahku menuduh ibuku sebagai penyebab dari kekuranganku.
Ayahku menampar ibuku. Aku berlari kekamarku, menguncinya dan menangis. Aku
berharap, jika aku pergi ayahku tak lagi menyalahkan ibu. Aku memasuki lemari
pakaianku, menutupnya dan mencoba untuk tertidur secepat mungkin. Jadi, tolong
aku kali ini saja. Buat aku pegi dengan tenang, Gea.”
Aku menangis dan tak sanggup melakukan
apapun kecuali menangisi penderitaan Nobi. Ia memberitahuku apa yang harus ku
lakukan. Lalu apa yang membuatmu menunggu untuk membantunya?
Aku melangkah menaiki tangga, mendekati
pintu bertuliskan shin-shi-tsu dan
mencoba membukanya. Seperti yang dikatakan Nobi, pintu itu terkunci. Aku dapat
merasakan air mataku yang terjatuh ke lenganku. Sungguh aku tak dapat
menghentikan tangisanku ini. Rasanya perih sekali ketika mengetahui kenyatahan
pahit itu.
Aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk
mendobrak pintu itu. Sekali. Duakali. Semuanya sia-sia, pintu itu tak
bergeming. Pintu itu terkunci rapat, sama seperti kisah Nobi yang di tutupnya
rapat-rapat. Aku akan mencoba dan tak akan menyerah.
BRAK.
Pintu itu terbuka lebar. Kamar itu tidak
besar, juga tidak kecil. Sebagian dindingnya terpajang poster tentang cara
mengeja juga banyak catatan matematika. Sungguh, suasana kamar itu begitu
membuat hatiku tercabik. Di tempat inilah Nobi menangis sepanjang waktu. Nobi yang
kesepian, tidak ada yang lain. Tanpa berpikir panjang,aku langsung membuka
lemari disana. Kayunya mulai rapuh hingga tak sulit untuk merusak engsel
pintunya. Aku terkejut ketika lemari itu terbuka. Aku menemukan kerangka itu.
Kerangka Nobi.
“Terimakasih, Gea. Aku sekarang bisa
pergi dengan tenang. Selamat tinggal.”
Suara itu hilang. Nobi sudah pergi. Ia
akan tenang sekarang. Nobi tak lagi kesepian. Disana ia akan bertemu
orangtuanya. Hidup abadi dengan kebahagiaan. Terimakasih, karenamu aku akan
mengubah hidupku menjadi jauh lebih baik. Aku berjanji akan menghargai setiap
perbedaan. Itu hal yang kau ajarkan padaku. Selamat jalan, teman.
Berbahagialah. Oleh:
Karimah Syakirotin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar